about 2 years ago

Urgensi Keaktifan Siswa Melaksanakan Salat Dhuha di Sekolah

Proses belajar adalah berbuat, bereaksi, mengalami, menghayati.1 Belajar juga dapat diartikan sebagai pengalaman. Pengalaman mempunyai dua aspek, seseorang menerima perangsang perangsang dari luardan sebaliknyaindividu itu bereaksi terhadap perangsang itu, yakni ia mengamati, memikirkan, mengolahnya dan menentukansikap dan kelakuannya terhadap pengaruh dari lingkungan itu. Pengalaman adalah interaksi antara individu dan lingkungan untuk mencapai tujuan-tujuan yang mengandung arti bagi individu itu. Jadi agar bertambah pengalaman, tak cukup kalau ia hanya dibanjiri oleh banyak perangsang. Syarat lain ialah ia harus aktif mengolahnya sehingga menjadi perubahan kelakuan padanya.2

Sebagaimana pendapat Az-Zarnuji yang menukil dari sahabat Ali ra.: “Ingatlah bahwa seorang siswa tidak akan dapat memperoleh ilmu kecuali memenuhi enam syarat, maka saya akan mengutarakan sekumpulan enam perkara itu dengan keterangan sebagai berikut yaitu cerdas, semangat atau antusias, sabar, menjauhi hal-hal yang dilarang, memperhatikan guru, dan dengan waktu yang lama”.

Dalam pengertian yang lain, seorang pencari ilmu atau siswa memiliki sepuluh poin kewajiban atautugas dalam mencari ilmu. Menurut Al- Ghazali sepuluh poin tersebut adalah:3

Pertama: memprioritaskan penyucian diri dari akhlaq tercela dan sifat buruk, sebab ilmu itu bentuk peribadatan hati, peribadatan rohani dan pendekatan batin kepada Allah.

Kedua: siswa menjaga diri dari kesibukan-kesibukan duniawi dan seyogyanya berkelana jauh dari tempat tinggalnya.

Ketiga: tidak membusungkan dada terhadap orang alim (guru), melainkan bersedia patuh dalam segala urusan dan bersedia mendengarkan nasihatnya.

Keempat: bagi penuntut ilmu pemula hendaknya menghindarkan diri dari mengkaji variasi pemikiran dan tokoh, baik menyangkut ilmu duniawi maupun ilmu ukhrawi.

Kelima: tidak mengabaikan suatu disiplin ilmu apapun yang terpuji, melainkan bersedia mempelajarinya hingga tahu akan orientasi dari disiplin ilmu yang dimaksud.

Keenam: penuntut ilmu dalam usaha mendalami suatu disiplin ilmu tidak dapat melakukan secara sekaligus, akan tetapi memerlukan waktu yang lama atau bertahap.

Ketujuh: sebelum mendalami ilmu yang diajarkan secara maksimal tidak boleh mempelajari ilmu yang baru, sebab ilmu-ilmu itu bersinambungan secara linier satu sama lain saling terkait.

Kedelapan: menuntut ilmu hendaknya mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan dapat memperoleh ilmu yang paling mulia, kemuliaan dan keutamaan ilmu didasarkan pada dua hal yaitu keutamaan hasil (dampak) danreliabilitas landasan argumentasinya.

Kesembilan: tujuan belajar penuntut ilmu adalah pembersihan batin dan menghiasinya dengan keutamaan serta pendekatan diri kepada Allah.

Kesepuluh: mengetahui relasi ilmu-ilmu yang dikajinya dengan orientasi yang dituju sehingga dapat memilah dan memilih ilmu mana yang perlu lebih dipentingkan.

Pembahasan tentang keaktifan siswa melaksanakan salat dhuha tidak lepas dari proses belajar itu sendiri,karena dalam pelaksanaannya, waktu dan tempatnya dilaksanakan di sekolah dan sebagai penunjang, penambah pengalaman selain belajar di dalam kelas.

Proses belajar bukan hanya menghafal dan mengingat saja, akan tetapi proses belajar ditandai dengan adanya perubahan-perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah lakunya, keterampilan, kecakapan, dan kemampuan,dan reaksinya, daya penerimaannya serta peka terhadap lingkungannya (baca: hubungan pembiasaan sholat dan akhlak mulia). Untuk itu ada empat kriteria agar siswa tergolong aktif dalam melaksanakan salat dhuha yaitu: pertama, intensitas kehadiran siswa; kedua kesungguhan pelaksanaan; ketiga perhatian atau keseriusan; keempat antusiasme atau semangat.

a. Intensitas Kehadiran Siswa

Yang dimaksud di sini adalah, kalau memang pelaksanaan salat dhuha itu dilaksanakan setiap jam pelajaran PAI, apakah siswa hanya melaksanakan sesuai jadwal saja/setiap harinya tanpa dipantauan guru, sehingga sudah tertanam nilai-nilai kebiasaan untuk melaksanakannya.

b. Kesungguhan

Kesungguhan di sini maksudnya adalah kesungguhan siswa dalam (melaksanakan) salat dhuha yang dilaksanakan di sekolah.

c. Perhatian

Artinya siswa dalam melaksanakan aktivitas salat dhuha bukan hanya sekedar datang saja, akan tetapi siswaharus menyiapkan alat- alat yang menjadi pokok pelaksanaannya, dengan cara membawa perlengkapan salat masing-masing.

d. Antusiasme atau semangat

Dalam konteks yang lebih luas, salah satu yang menunjukkan kesan pendidikan Islam yang identik dengan kemandekan, stagnan, kemunduran lebih-lebih pada belahan bumi/dunia kerja, termasuk Indonesia yaitu hilangnya semangat mencari ilmu (spirit of inquiry).

Maksudnya dengan adanya pelaksanaan salat dhuha siswa diharapkan bersemangat dalam mencari ilmu. Lebih-lebih dalam bidang kajian pendidikan agama Islam, karena di tangan merekalah masa depan suatu bangsa, kaum, bahkan peradaban, sehingga tidak selayaknya ia malas.

Catatan Kaki

  1. Nasution, S., Didaktik Asas-asas Mengajar, (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 1995), hlm. 98.
  2. Az-Zarnuji, Ta’lim Mutaallim, ( Surabaya: Diyantama, 1998 ), hlm, 41.
  3. Muhammad Jawwad Ridho, Al-Fikr Al-Tarbawiyy Al-Islamiyyu, Dalam Terjemahan Mahmud Arif, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam, (Yogyakarta, PT. Tiara Wacana, 2002), hlm. 124.
← Jokka ke Pontianak Kota Wisata Paling Menarik di Indonesia Taman Balekambang Solo Sebuah Perwujudan Kasih Sayang Seorang Ayah kepada Putrinya →